SENI KRIYA
Kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni.
Seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.
Kriya bisa "meminjam" banyak pengetahuan dalam seni rupa murni seperti cara mematung atau mengukir untuk menghasilkan produk, namun tetap dengan tidak terlalu berkonsentrasi kepada kepuasan emosi seperti lazim terjadi misalnya pada karya lukis dan patung. Kriya juga lebih sering mengikuti tradisi daripada penemuan yang sering ditemukan secara individu oleh seorang perupa Kriya bisa berbentuk karya dari tanah, batu, kain, logam ataupun kayu.

A. UNSUR KARYA SENI KRIYA
Seni kriya mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Utility atau aspek kegunaan
Ø Security yaitu jaminan tentang keamanan orang menggunakan barang-barang itu.
Ø Comfortable, yaitu enaknya digunakan. Barang yang enak digunakan disebut barang terap. Barang-barang terapan adalah barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi.
Ø Flexibility, yaitu keluwesan penggunaan. Barang-barang seni kriya adalah barang terap yaitu barang yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Barang terap dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.
2. Estetika atau syarat keindahan
Sebuah barang terapan betapapun enaknya dipakai jika tidak enak dipandang maka pemakai barang itu tidak merasa puas. Keindahan dapat menambah rasa senang, nyaman dan puas bagi pemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu diperindah dan berwujud estetik.

B. JENIS - JENIS SENI KRIYA
      1. Seni kerajinan kulit
         adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit  sintetis. Contohnya: tas, sepatu, wayang dan lain-lain.
 
   >> contoh seni kerajinan kulit yang terbuat dari kulit telur

2. Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.
 
 >> contoh hasil kerajian logam tembaga dan kuningan khas Cepego

3. Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contohnya mebel, relief dan lain-lain.
  >> contoh seni kerajinan ukir kayu relief dari Jepara
4. Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain.

    >> seni kerajinan anyaman daun pandan
5. Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju, gaun dan lain-lain.
   >> contoh seni kerajianan batik Kebumen
6. Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, piring dan lain-lain.
>> contoh hasil kerajinan keramik Vas Shobido Koi


C. FUNGSI DAN TUJAN SENI KRIYA
1. Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung.
2. Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya.
3. Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan sebagai alat permainan.


 D. CONTOH TOKOH DALAM SENI KRIYA 

   a) Patung
1. Dolorosa Sinaga (lahir di Sibolga, Sumatera Utara; 31 Oktober 1953) seorang pematung Indonesia. Karyanya banyak menampilkan keimanan, krisis, solidaritas, multikulturalisme, dan perjuangan wanita.
Karyanya cenderung memperlihatkan emosi tinggi yang khas, kebanyakan berwarna hijau dan memiliki bentuk sederhana. Kebanyakan figur berbentuk wanita.
salah satu hasil dari Dolorosa Sinaga yaitu :

>> hasil karya Dolorosa Sinaga yang berjudul " Lapindo Brantas "

2. I Nyoman Nuarta
Nyoman Nuarta adalah pematung Indonesia dan salah satu pelopor gerakan seni rupa baru (1976). Ia lahir di Tabanan Bali pada tanggal 14 November 1951. Nyoman Nuarta mendapatkan gelarnya dari Institut Teknologi Bandung dan hingga kini Nyoman Nuarta menetap di Bandung.
 contoh hasil karya I Nyoman Nuarta

>> hasil karya I Nyoman Nuarta yaitu patung wisnu yang ada di Bali

b. Wayang

1. Sagio
 Sagio mengelola tempat pembuatan wayang di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Seorang masterpiece yang selama lebih dari 30 tahun bertekun dalam pembuatan wayang. Proses belajarnya dari sang ayah (Jaya Perwita) dan seorang pembuat wayang senior Kraton Yogyakarta (MB Prayitno) membuatnya mampu mengenal karakter setiap tokoh wayang. Pengetahuan mendalam yang berpadu dengan semangat cinta wayang yang telah tumbuh sejak usia 11 tahun membuatnya mampu menghasilkan wayang dengan kualitas ultra. 


c. batik

1. Iwan Tirta

adalah seorang perancang busana yang terkenal di Indonesia.  beliau lahir di Blora, Jawa Tengah 18 april 1935 – meninggal di Jakarta pada tanggal 31 Juli 2010 pada umur 75 tahun. karyanya sudah sangat di kenal oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. beliau adalah lulusan dari London School of Economics dan Sekolah Hukum Yale. meskipun beliau belajar ilmu hukum namun hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk seni merancang batik.  hasil karya rancangannya terutama batik, telah digunakan oleh banyak kalangan atas di seluruh Indonesia. salah satunya adalah presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan dan Ibu Negara Nancy Reagan. 

  d. kerajinan anyaman

1.  I Gusti Putu Geria adlah seorang ahli pembuat anyaman bambu, rotan, dan daun lontar. beliau telah bertahun-tahun menggeluti dunia kerjianan anyaman ini. sehingga karyanya sudah sangat terkenal di Indonesia. meskipun beliau belajar seni menganyam secara otodidak, namun karyanya sangat bersaing dengan pengrajin lainnya. ciri khas karya beliau yang merupakan keunggulan dari karya beliau adalah penggunaan warna  cokelat gelap (dark mahagony) yang memberikan kesan natural, antik dan anggun menambah kecantikan dan keindahan berbagai produk kerajinan anyaman itu. hasil anyaman karya beliau telah diekspor ke berbagai negara seerti Jepang, Amerika Serikat, dan Australia.


Bahan cara membuat seni kriya
Pengertian
Seni Kriya adalah Bidang keilmuan yang mempelajari pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas berkarya rupa, yang bertolak dari pendekatan medium, kepekaan estetik, kebutuhan keseharian (utiliatrian) dan mengandalkan keterampilan manual. Seni kriya juga adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan yang proses pembuatannya lebih mengutamakan fungsi dan kegunaan.
Seni kriya (seni kerajinan tangan, handycraft) dapat diartikan, suatu bentuk/karya yang dikerjakan secara manual atau dibantu dengan alat lain sebagai benda yang berguna bagi kepentingan manusia.Hasil karya kriya diutamakan mengandung nilai keunikan konseptual, tema, imajinatif, emosional dan inderawi (visual, tactile, olfactory). Kriya juga merupakan metoda berkarya sekaligus mendesain produk yang mengutamakan nilai kualitas estetika, fungsional, keunikan, tema, makna dan pesan filosofis.
Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan terhadap keindahan (kebutuhan emosional). Dalam perkembangannya, karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan. Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.
Perkembangan Seni Kriya di Nusantara
Seni kriya Nusantara di indonesia dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok fase perkembangan :
* Seni Kriya Tradisional Klasik (Hindu-Budha)
* Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah), dan
* Seni Kriya Indonesia Baru (Kolonial)
_ _Seni Kriya Tradisional Klasik (Hindu-Budha) :
* Kaidah seni dibakukan dalam pedoman seni oleh empu atau seniman.
* Mutu seni, yang bersifat teknik maupun estetik dilandasi oleh pemikiran falsafah hidup dan pandangan agama Hindu, Budha, Islam.
* Contoh karya seni kriya pada masa ini adalah batik, pandai emas dan perak, ukiran kayu, keris, wayang kulit dan wayang golek, dan kerajinan topeng

wayang dan keris
Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah)
* Ciri-ciri dari kebudayaan etnik menghasilkan corak kesenian tradisional sesuai dengan watak masyarakat, adab kehidupan, dan lingkungan alamnya
* Pembuatan dan jenis seni kriya tradisional ditentukan oleh bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggal.
* Karya seni kriya tradisional rakyat yaitu : anyaman, gerabah, logam, dan topeng yang masih bertahan
     _  Ciri - ciri karya seni kriya tradisional rakyat :_
* kebudayaan etnik
* corak tradisional
* watak masyarakat
* adab kehidupan
* lingkungan alamnya

Seni kriya tradisional
Seni Kriya Indonesia Baru (Kolonial)
* Pada zaman kolonial pendidikan mementingkan nilai-nilai rasional dan kehidupan jasmaniah.
* Kesadaran nilai-nilai luhur terhadap nilai-nilai tradisional seni kriya menjadi lemah, baik yang klasik maupun kriya rakyat
* Beberapa karya kriya indonesia baru yang dipadukan dengan seni tradisi dan bahan industri
         _ ciri-ciri karya indonesia baru :_
* kehilangan nilai tradisi dan nilai klasik
* komersialisasi yang melanda para kriyawan. keahlian para seniman klasik tidak diwariskan
* saingan dari benda pakai hasil produksi industri

karya seni kriya 3 dimensi
Fungsi Seni Kriya
Sebagaimana kami sampaikan diatas bahwa seni kriya adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan dimana proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu. Fungsi seni kriya secara garis besar terbagi atas tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Seni Kriya sebagai Hiasan (dekorasi)
Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada segi fungsinya sehingga bentuk bentuknya mengalami pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding, cinderamata, patung, dan lain-lain.
2. Seni Kriya sebagai Benda terapan (siap pakai)
Seni kriya yang sebenarnya adalah seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya jenis ini mempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai,bersifat nyaman, namun tidak kehilangan unsur keindahannya. Misalnya, senjata, keramik, furnitur, dan lain-lain.
3. Seni Kriya sebagai Benda mainan
Di lingkungan sekitar sering kita jumpai produk seni kriya yang fungsinya sebagai alat permainan. Jenis produk seni kriya seperti ini biasanya berbentuk sederhana, bahan yang digunakan relatif mudah didapat dan dikerjakan, dan harganya juga relatif murah. Misalnya, boneka, dakon, dan kipas kertas.
Jenis-jenis Seni Kriya
Jenis-jenis seni kriya banyak sekali dan sangat mudah ditemukan di berbagai daerah. Berdasarkan dimensinya, jenis-jenis seni kriya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Seni kriya dua dimensi
Karya seni kriya dua dimensi meliputi sulaman, bordir, mozaik, kolase, batik, tenun, relief, dan hiasan dinding.
2. Seni kriya tiga dimensi
Karya seni kriya tiga dimensi meliputi sebagai berikut.
a. Kriya keramik
Kerajinan keramik menggunakan bahan dasar tanah liat. Produk yang dihasilkan, misalnya vas
bunga, guci, teko, kendi, dan peralatan rumah tangga.

b. Kriya logam
Kerajinan logam menggunakan bahan jenis logam, seperti emas, perak, perunggu, besi, tembaga, aluminium, dan kuningan. Produk yang dihasilkan, misalnya perhiasan emas dan perak, patung perunggu, senjata tajam, peralatan rumah tangga, dan alat musik gamelan. Sekarang kerajinan logam dibuat dengan berbagai variasi bentuk.

c. Kriya kulit
Kulit banyak digunakan untuk membuat berbagai benda kerajinan, seperti wayang kulit, tas, sepatu, jaket, dan alat musik rebana.

d. Kriya kayu
Kayu banyak menghasilkan berbagai benda kerajinan, seperti topeng, wayang golek, furnitur, patung, dan hiasan ukir-ukiran.

e. Kriya anyaman
Kerajinan anyaman biasanya menggunakan bahan dasar, seperti bambu, daun mendong, dan tali plastik untuk membuat tempayan, topi, tutup nasi, tikar, dan gantungan pot tanaman.
Topeng
Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Ini karena peranan topeng yang besar sebagai simbol-simbol khusus dalam berbagai uparaca dan kegiatan adat yang luhur.

Kehidupan masyarakat modern saat ini menempatkan topeng sebagai salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, tetapi sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit dijelaskan.

Topeng Di Indonesia
Topeng masuk Indonesia pada sekitar abad ke-17. Secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Diyakini bahwa topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Pada beberapa suku, topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat sehari-hari.

Topeng Jawa
Cerita klasik Ramayana yang berkembang sejak ratusan tahun lalu menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendra-tari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut. Salah satu tokoh dari cerita Ramayana adalah Rama dan Sinta. Rama adalah seorang suami yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Sinta dari Rahwana. Sementara Sinta adalah istri setia yang berjuang melawan godaan Rahwana untuk menjaga kesucian cintanya.

Topeng Cirebon


Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Penari-penari dan penabuh gamelan Keraton pada jaman penjajahan Belanda mata pencaharian semakin sulit sehingga harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan.

Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan antara lain : Klangenan, Plumbon serta Arjawinangun, sedangkan di Kota Cirebon sendiri sudah tergeserkan oleh kesenian yang lebih modern. Namun demikian masih terlihat adanya kultur Kraton yang mengajarkan adab kebangsawanan dalam pementasannya yang berbaur dengan kultur rakyat yang sederhana dilihat dari pakaian yang dikenakan para penarinya.

Topeng Jogja


Dalam pagelaran Wayang Wong yang di ciptakan oleh Hamengku Bhuwono I ( 1755-1792 ) dalam pengekspresian karakter gerak tari tokoh-tokoh wayang untuk peran kera dan raksasa dalam pentas Ramayana maupun Mahabharata pemainnya dilengkapi dengan pemakaian topeng, sedangkan untuk tokoh satria dan wanita tidak mengenakan topeng.


Topeng Surakarta


Topeng gaya Surakarta hampir sama dengan gaya Yogyakarta hanya terdapat perbedaan pada kumisnya yang terbuat dari bulu. Tokoh punakawan Bancak dan Doyok juga mengenakan topeng separuh muka seperti gaya Yogyakarta

Topeng Malang


Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung. Dalam pementasannya mengetengahkan ceritera-ceritera Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar/masuk para penarinya.

Topeng Bali
Topeng sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel. Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Sebagai sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.

Topeng Bali


Topeng Dayak
Di daerah Kalimantan, suku Dayak menggunakan topeng dalam Tari Hudog yang sering dimainkan dalam upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari ini dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak. Topeng yang digunakan berwarna hitam, putih, dan merah yang melambangkan kekuatan alam yang akan membawa air dan melindungi tanaman yang mereka tanam hingga musim panen tiba.
Dapat kita lihat, betapa para ahli telah bekerja keras untuk menyelidiki dan mempelajari misteri dibalik topeng. Tetapi sampai saat ini masih tersisa beberapa pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Tidak seorangpun dapat menjelaskan mengapa manusia merasa perlu menutupi wajahnya dengan topeng. Kita juga masih belum menemukan jawaban mengapa di sebagian besar adat suku tertentu tidak mengijinkan wanita menggunakan topeng. Dan begitulah misteri dibalik topeng, terus menerus menyelubungi.
Macam - macam Topeng

1. Topeng Dewa Wisnu

Dalam Hindu, Wisnu dipuja sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan memelihara alam semesta. Ia adalah suami Dewi Laksmi yang dalam kitab Weda seringkali muncul dengan Indra yang membantunya membunuh Vritra. Selain dengan Indra, hubungannya dengan Brahma dan Siwa memunculkan konsep Trimurti. Kendaraannya adalah Garuda, dewanya segala burung.

Dalam penggambaran umum, Dewa Wisnu sering dilukiskan duduk di atas bahu burung Garuda. Kulitnya berwarna biru seperti warna langit yang melambangkan kekuatan tiada batas, seperti halnya langit yang abadi. Lengannya berjumlah empat, yang masing-masing selalu memegang empat benda yang selalu melekat padanya, yaitu:
1.      Shankhya pada tangan kiri atas, merupakan terompet kulit kerang yang melambangkan kreativitas.[/FONT]
2.      Chakram pada tangan kanan atas, merupakan senjata berputar dengan gerigi tajam yang melambangkan pikiran.
3.      Gada pada tangan kiri bawah, melambangkan keberadaan individual.
4.      [FONT=arial]Padma pada tangan kanan bawah merupakan bunga lotus yang melambangkan kekuatan yang memunculkan alam semesta.
2. Topeng Sidha Karya

Cerita ''Nangluk Merana'' yang sering dipentaskan, mengungkap asal muasal topeng Sidakarya. Dikisahkan di Kerajaan Gelgel, Dalem Waturenggong menyelenggarakan upacara besar-besaran di Pura Besakih dalam rangka menenteramkan jagat Bali. Gaung persiapan yadnya tersebut tersebar kemana-mana, bahkan sampai ke tanah Jawa.

3. Ondel-Ondel

Agak berbeda dengan bentuk topeng dari suku-suku lainnya, Ondel-ondel hadir sebagai topeng yang menampilkan keseluruhan tubuh manusia. Berkembang dalam kehidupan masyarakat Betawi, Ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

4. Topeng Rangda

“Barong & Rangda” adalah tarian menggunakan topeng yang menceritakan kekuatan suci melawan kekuatan jahat. Barong dengan topeng yang menyerupai singa, mewakili kekuatan suci. Sedangkan Rangda, yang kami tampilkan disini, mewakili seorang wanita tua penyihir jahat yang dalam mitos Bali diyakini sebagai ratunya para leak.

Barong merepresentasikan dewa yang akan melindungi seluruh masyakarat dari segala bahaya dan ancaman kekuatan jahat yang direpresentasikan Rangda. Dalam ceritanya, Rangda digambarkan senang menculik dan memakan anak kecil.


5. Topeng Barong

Barong adalah karakter yang sangat dikenal dalam mitologi Bali. Ia selalu tampil bersama Rangda, lambang kekuatan jahat yang menjadi musuhnya. Berkarakter protagonis sebagai raja segala roh yang melambangkan kebaikan, Barong tampil dalam sosok seekor singa yang melindungi. Tarian tradisional yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda kerap dimainkan sebagai atraksi wisata di Bali yang selalu dinanti wisatawan.

6. Topeng Raden Antunan
Sekitar abad ke-16, Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Sanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa, menggunakan berbagai media untuk menyampaikan dakwahnya. Diantaranya adalah pagelaran wayang dan tarian yang banyak mengambil dari kisah klasik Ramayana dan Mahabharata. Selain itu, cerita kehidupan kerajaan juga sering diangkat dalam tarian.

7. Topeng Suku Dani

Di tengah pegunungan Irian Jaya (atau sekarang Papua) terletak Lembah Baliem dimana bermukim suku-suku yang masih hidup seperti pada Zaman Neolitikum. Suku Dani adalah salah satu yang paling dikenal. Meskipun berbagai pihak seperti pemerintah dan kaum misionaris telah berusaha memodernisasi kehidupan mereka, tetapi nampaknya tidak mudah bagi mereka yang sudah berabad-abad menganut paham Animisme dan Dinamisme.

8. Topeng Lakshmana

Lakshmana adalah adik Rama yang berbakti dan setia. Dari kisah klasik Ramayana, diceritakan tentang kisah cinta Rama dan Shinta. Rahwana, raja jelmaan iblis, menaruh hati pada Shinta dan berencana untuk menculiknya dari tangan Rama.

9. Topeng Dewi Saraswati

Dewi Saraswati adalah istri Dewa Brahma. Digambarkan sebagai sosok wanita cantik dengan kulit halus dan bersih yang selalu mengenakan baju putih melambangkan kesucian. Dalam naskah-naskah kuno, ia digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai lengkap dengan seekor angsa yang merupakan kendaraan suci yang kesemuanya merupakan simbol Kebenaran Sejati.

Selain angsa kadang ditemukan burung merak yang melambangkan sifat Saraswati memang lebih dikenal sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan yang diperingati oleh umat Hindu dalam salah satu hari rayanya. Dalam merayakan Saraswati, umat Hindu membersihkan rak buku, merapikan buku-buku, dan membenahi segala sarana pendidikan juga sumber ilmu pengetahuan.

Yang senantiasa diingat darinya adalah lengannya yang berjumlah empat. Ini melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yaitu: pikiran, intelektual, mawas diri dan ego. Di lengan masing-masing ia menggenggam:
  1. Lontar (buku) yaitu Weda yang melambangkan pengetahuan sejati yang universal dan abadi.
  2. Ganitri (Mala, Tasbih, Rosario) yang melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
  3. Wina (kecapi) yaitu alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
  4. Damaru (kendang kecil).

10. Topeng Hanoman

Hanoman atau dikenal juga dengan Anoman adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu dan merupakan tokoh protagonis dalam wiracrita Ramayana. Ia adalah seekor kera putih putra Batara Bayu dan Dewi Anjani, saudara Subali dan Sugriwa. Tokoh Hanoman dalam pengembangannya muncul juga dalam cerita Mahabharata. Ini menjadikan Hanoman tokoh antar zaman yang popular dan dipuja. Di India Hanoman dipercaya sebagai dewa pelindung. Banyak sekali kuil yang dibangun dan didedikasikan untuk memuja Hanoman. Tidak hanya di India, Indonesia pun menganggap Hanoman sebagai tokoh yang diagungkan dengan menjadikannya maskot Sea Games 1997 yang berlangsung di Jakarta.

11. Bagong

Bagong adalah bungsu, anak ketiga Semar. Bagong selalu tampil sebagai sosok yang jenaka, tidak peduli kepada siapapun, baik kepada ksatria, raja maupun dewa. Justru dalam banyolan yang ia terdapat nasehat, petuah dan kritik. Dalam perang, Bagong selalu tampil dengan golok yang menjadi senjata andalannya.

12. Semar

Semar adalah anak dewa Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati yang adalah seorang putri kepiting raksasa bernam Rekata. Suatu hari Dewi Rekawati bertelur dan dengan segala keajaiban, telur tersebut menetas dengan kulitnya menjadi Tejamantri (Togog), putih telurnya menjadi Bambang Ismaya (Semar), dan kuning telurnya menjadi Manikmaya (Batara Guru).

13. Topeng Barong

Barong adalah karakter yang sangat dikenal dalam mitologi Bali. Ia selalu tampil bersama Rangda, lambang kekuatan jahat yang menjadi musuhnya. Berkarakter protagonis sebagai raja segala roh yang melambangkan kebaikan, Barong tampil dalam sosok seekor singa yang melindungi. Tarian tradisional yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda kerap dimainkan sebagai atraksi wisata di Bali yang selalu dinanti wisatawan.

14. Topeng Srikandi

Wanita yang sukses dalam suatu bidang dan tampil menyaingi kaum pria seringkali diberi julukan ‘Srikandi’. Tidak berlebihan jika menengok kisah Srikandi yang diceritakan sebagai tokoh prajurit wanita yang mandiri dan perkasa. Pada versi asli cerita Mahabharata di India, putri kedua Prabu Drupada ini lahir sebagai seorang anak lelaki tetapi kemudian berubah menjadi seorang perempuan.


15. Topeng Pangeran

Dan seperti halnya benda seni lainnya, topeng tak lepas dari sentuhan seniman yang terus menggali kekayaan budaya kita. Dengan figur yang tidak selalu mewakili tokoh tertentu, para seniman terus mengeksplorasi bentuk topeng yang mengandung nilai estetika tinggi. Topeng ini misalnya, berasal dari Bali dan menampilkan profil seorang pangeran.

16. Gareng

Gareng adalah anak sulung Semar. Ia mempunyai beberapa cacat fisik yang melambangkan sifat-sifat baiknya, seperti: kakinya yang pincang menandakan Gareng adalah sosok yang selalu berhati-hati dalam melangkah, tangan yang ciker menandakan ia sosok yang tidak suka mengambil yang bukan haknya, dan mata yang juling menandakan ia tak mudah tergoda oleh keduniawian.

17. Topeng Jatayu

Jatayu lantas berkeinginan untuk menangkap sang matahari, keinginan yang selalu dicegah oleh sang kakak, Sempati. Tetapi karena Jatayu keras hati, terbang juga ia untuk menangkap matahari. Matahari yang merasa terusik menjadi marah besar dan melepaskan sinarnya yang membakar kearah Jatayu. Melihat adik tersayang dalam bahaya besar, serta merta Sempati terbang menyusul untuk menyelamatkan Jatayu.

18. Topeng Raja Putri

Dalam budaya Bali yang kaya akan ekspresi seni, tarian dan topeng adalah hal yang tak terpisahkan. Tarian yang sampai saat ini masih tumbuh subur dan terpelihara, tidak semata-mata dimainkan dalam upacara adat dan kegiatan ritual saja, tetapi juga dalam pementasan seni yang mengusung cerita sejarah dari raja-raja dan para pahlawan di masa lampau.

19. Petruk

Petruk adalah adik angkat gareng. Ia adalah Punakawan yang bersosok tinggi dan berhidung panjang. Wajahnya digambarkan manis dengan senyum yang menarik hati. Ia pandai berbicara dan sangat lucu. Dalam lawakan yang ia lontarkan, seringkali ia menyindir penyimbangan dan ketidakadilan.


 


TOPENG SAKTI MANDRAGUNA ...............!!!!!!!

Rp. 250.000,-
Topeng Jawa
Cerita klasik Ramayana yang berkembang sejak ratusan tahun lalu menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendra-tari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut. Salah satu tokoh dari cerita Ramayana adalah Rama dan Sinta. Rama adalah seorang suami yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Sinta dari Rahwana. Sementara Sinta adalah istri setia yang berjuang melawan godaan Rahwana untuk menjaga kesucian cintanya.
Rp. 350.000,-


Topeng Bali
Topeng sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel. Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Sebagai sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.
Rp. 375.000,-
TOPENG SITUS KERAJAAN MAJAPAHIT
Dalam sejarah manusia nama Gajah Mada terakhir dengan tinta emas, sebagai sosok yang berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji Majapahit pada saat pemerintahan Hayam Wuruk. Gajah Mada tidak sekedar mengumbar janji dan mimpi di depan Maharaja dan Rakyat Majapahit, tapi mampu membuktikan dan melaksanakan Sumpah Palapa yang di ucapkannya hingga mampu mempersatukan nusantara. Di balik itu semua ternyata Gajah Mada semasa hidupnya konon selalu mempergunakan topeng. Topeng tersebut dipergunakannya saat dirinya menyelesaikan suatu sengketa. Bila ada suatu pertarungan antara demung, Gajah Mada akan hadir di tengah-tengah laga. Kehadirannya selalu di tunggu karena sosok bertopeng inilah di anggap oleh banyak pihak mampu mendamaikan sosok-sosok yang bertikai dengan petuah perdamaian. Bila perdamaian telah berhasil dicapai, sosok yang mampu menghipnotis banyak orang dengan kehadirannya di medan laga akan segera melesat pergi begitu saja, meninggalkan kalangan dengan menyisakan rasa penasaran yang menggayuti benak banyak orang. Tak banyak yang mengetahui bila sosok bertopeng itu adalah Mahapatih Gajah Mada . ada yang mengatakan bila Gajah Mada sudah memakai topeng, kesaktiannya akan bertambah. Dan topeng yang yang di pergunakannya dalam menyuarakan perdamaian itulah yang akan kita hadirkan dalam ritus budaya ini, terang H Lalu Anggawa Nuraski, Ketua Panitia Ritus Budaya Rinjani Agung 2009.




Rp. 225.000,-
Topeng Dayak
Di daerah Kalimantan, suku Dayak menggunakan topeng dalam Tari Hudog yang sering dimainkan dalam upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari ini dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak. Topeng yang digunakan berwarna hitam, putih, dan merah yang melambangkan kekuatan alam yang akan membawa air dan melindungi tanaman yang mereka tanam hingga musim panen tiba.

Rp. 150.000,-
TOPENG PANJI CIREBON
Sudah lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam


Leave a Reply