Kisah ini berawal dari sebuah desa kecil yang indah. Tetapi keindahannya, dan keasriannya, tidak bisa menutupi kesedihan hati seorang gadis kecil, yang malang. Ia begitu sedih, karena ayahnya pergi ke luar kota untuk bekerja, sedangkan ibunya sedang telah meninggal 5 bulan yang lalu.

IbuTiri               : (sambil merangkul Bawang Putih) ”Bawang Putih, aku ikut  merasakan kesedihan mu.
Bawang Merah  :”Benar Bawang Putih, aku juga bersedia kok menjadi sahabatmu”.
Ibu Tiri              : “Atas perintah ayahmu, bolehkah aku tinggal disini untuk menemanimu.!?”
Bawang Putih   : “Baiklah tapi maaf bu, sat ini aku ingin sendiri, jadi kumohon tinggalkan aku dulu”.
Sementara itu di Kerajaan.
Pengawal           : “Pangeran Kakek memanggil Anda Pangeran. Mengenai kesehatan ayah handa”.
Pangeran           : ”Kakek, apakah ada sesuatu dengan Ayah handa”?
Kakek                : ” Cucuku, kondisi Ayah mu semakin kritis saja”.
Pangeran           : “Apa yang harus aku lakukan?”
Kakek                : “Kamu harus menemukan bunga yang terletak dihutan kecil itu”.
Pangeran           : ”Baiklah Kek, aku akan segera mencari bunga itu”.
Kakek                : “Hati-hati cucuku”.
Pangeran           : “Baik kek, Pengawal, cepat berkemas, kita akan mencari bunga itu”.
Pengawal           : ”Sandiko Pangeran”. (lalu mereka meninggalkan kerajaan)

Sementara kita beralih ke rumah Bawang Putih. Telah tinggal Bawang Putih, Bawang Merah dan Ibu Bawang Merah. Sejak ibu bawang merah dengan ayah bawang putih menikah, ia bersikap baik tetapi setelah ayah bawang putih pergi bekerja ke luar kota sikap ibu bawang merang dan bawang merah berubah.
Bawang Merah  : ”Oh ya Bawang Putih, di dapur banyak cucian. Cepetan cuci pakaian-pakaian itu!”
Kagetlah Bawang Putih, tapi dia tidak punya kekuatan. Lalu dia pergi ke dapur mengambil cucian yang banyak dan setelah mengambilnya dia pergi ke sungai untuk mencuci pakaian-pakaian itu. Tapi tiba-tiba ketika diperjalanan ada yang teriak-teriak minta tolong.
Peri                    : ”Tolooooong”. (kesakitan)
Bawang Putih   : “Sepertinya ada yang minta tolong”. ”Dimana ya”. (mencari sumber suara)
Peri                    : “Aku disini”.
Bawang Putih   : “Oh sungguh malang nasib mu”. (Bawang Putih segera mengangkat beban yang menindih peri itu)
Peri                    : ”Wah terima kasih, kamu telah menolong ku dan sebagai balas budi saya bolehkah saya membantu mu mencuci pakaian-pakaian mu”?
Bawang Putih   : ”Ah tidak usah”.
Peri                    : ”Tapi cucian mu sangat banyak, padahal dengan tongkat ini….”
Bawang Putih   : ”Baiklah, lakukan apa mau mu”.
Peri                    : ”Sim Salabrim, hilangkan kotoran pada pakaian itu”. (pada saat itu juga bersihlah semua pakaian itu)
Bawang Putih   : ”Oh..makasih banyak peri”
Peri                    : ”Itu sudah kewajiban ku”.
Bawang Putih   : ”Sebaiknya aku segera pulang, aku takut dimarahi Ibu dan kakak tiriku”.
Peri                    : ”Baiklah kalu begitu. Sampai jumpa”.
Ternyata dikejauhan, Pangeran melihat Bawang Putih. Diapun berniat mencarinya. Dan setelah menemukannya. Bawang Putih terlihat kaget dan berlari meninggalkan Pangeran. Dengan kecewa Pangeran kembali.
Pengawal           : ”Gimana Pangeran. Apa sudah ketemu dengan bidadari itu?”
Pangeran           : ”Ah sudahlah. Sebaiknya kita cari bunga itu disekeliling sini”.
Karena tak menemukannya. Pangeranpun mencari bunga itu  ketempat lain. Tanpa disengaja, Pangeran melewati rumah Bawang Putih dan mampir kerumah itu”.
Pangeran           : ”Minggir Pengawal. Putri manis sudikah kiranya putri menyebutkan nama”?
Ibu tiri               : ”Sungguh hina, kalau Pangeran harus berkenalan dengan pembantu murahan seperti dia. Bawang Putih cepat selesaikan pekerjaan mu”.
Bawang Putih   : (meninggalkan mereka semua)
Ibu tiri               : ”Maaf Pangeran, tidak sebaiknya anda singgah dulu dan mencicipi makanan buatan anak ku”?
Pangeran           : ”Terima kasih. Kami tidak lama disini”.
Tiba-tiba ketika Pangeran mau berbalik dia melihat bunga itu.
Pangeran           : ”Lihat! Itu pasti bunga yang kita cari”.
Pengawal           : ”Benar Pangeran”.
Pangeran           : ”Benar-benar indah”.
Bawang Merah  : ”Disini memang banyak yang indah-indah. Kalau Pangeran mau, kami tak keberatan memberinya”.
Pangeran           : ”Terima kasih, kami sangat membutuhkannya untuk kesembuhan Baginda Raja. Pengawal cabut bunga itu”!
Pengawal           : (mencabut bunganya tapi tidak bisa)
Pangeran           : ”Menurut kakek, hanya pemiliknyalah yang dapat mencabut bunga itu”.
Bawang Merah  : ”Oh dengan senang hati Pangeran”. ”Aduh tanganku sakit”.
Bawang putih    : ”Hamba akan melaksanakan amanat ini demi kesembuhan Baginda Raja dan demi kebesaran Karaton Panurukan”. 
Setelah tercabut, bawang Putih memberikan bunganya kepada Pangeran dan mereka pun saling bertatapan.
Pengawal           : (yang melihat kejadian itu memeluk bawang merah)

Setelah mendapat bunga itu Pangeran membawanya ke Kerajaan dan Bawang Putih meminumkannya ke Baginda Raja. Karena ketulusan dan jiwa yang putih juga hati yang bersih yang dimiliki Bawang Putih, akhirnya Baginda Raja dapat disembuhkan. Cerita ini pun berakhir dengan suasana yang penuh dengan kegembiraan. Sang Pangeran tampan menikahi Bawang Putih. Dan Bawang Merah dan Ibunya pun meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. (menari dan berdendang)
***THE END***

NAMA KELOMPOK
1.      EKA MARIA SHAFITRA              : (sebagai Ibu Tiri)
2.      YUSTIKA NURI KUSUMA           : (sebagai Bawang Merah)
3.      FIANA ROHMA                              : (sebagai Ibu Peri)
4.      HUSNA LUTFIA                             : (sebagai Bawang Putih)
5.      AHMAD MUFARIJUS SUBHAN : (sebagai Kakek)
6.      AHMAD FADRI                              : (sebagai Pengawal)

7.      SYAHRUL ARIFIN                         : (sebagai Pangeran)

Leave a Reply