A.    TRADISI  SEJARAH MASYARAK INDONESIA SEBELUM MENGENAL TULISAN

Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan disebut dengan kehidupan masyarakat Indonesia zaman prasejarah. Zaman prasejarah berlangsung sejak manusia ada sampai manusia mengenal tulisan. Zaman ini merupakan zaman yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan manusia.
Manusia yang hidup pada zaman prasejarah belum mengenal tulisan. Akibatnya, generasi selanjutnya sarta para peneliti tidak mungkin mengharapkan adanya bukti-bukti tertulis mengenai kehidupan mereka. Mereka hanya meninggalkan benda-benda kebudayaan. Melalui benda-benda ini, para ahli meneliti kehidupan mereka. Para ahli, misalnya, mencoba mengamati secara saksama benda-benda itu dengan cara merekonstuksinya. Kemudian mereka membuat penafsiran atau perkiraan tentang kehidupan pada masa itu. Meski demikian, situasi dan kehidupan macam apa yang sesungguhnya terjadi tetap tidak tersingkap secara penuh. Namun, bukan berarti bahwa para ahli tidak memberi sumbangan apa-apa. Bagaimanapun juga, mereka telah berusaha agar hasil penelitian mereka bisa sedekat mungkin menggambarkan kehidupan manusia pada masa itu. Benda-benda itulah yang merupakan satu-satunya bukti yang bisa diteliti.
1.      CARA MASYARAKAT MEWARISKAN MASA LALU
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah menyatakan, “Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah“. Pernyataan ini ingin menekankan pentingnya sejarah atau masa lalu bangsa Indonesia. Pentingnya masa lalu atau sejarah tidak hanya mengacu pada kehidupan berbangsa saja. Masing-masing orang, kelompok, atau suku bangsa juga tidak boleh meninggalkan masa lalunya baik masa lalu yang kurang menyenangkan maupun masa lalu yang menggembirakan. Menurut ilmu psikologi masa lalu tidak boleh dilupakan, melainkan diolah, dievaluasi, yang hasilnya berupa rekonsiliasi, atau perdamaian, baik perdamaian dengan diri sendiri, perdamaian dalam hidup sebagai kelompok. Masa lalu merupakan kekayaan dan pedoman yang sungguh berharga untuk hidup pada masa kini dan masa yang akan datang.
Secara khusus dalam kehidupan bersama sebagai bangsa, ada dua aspek utama dari peninggalan masa lalu yang tidak boleh dilupakan.
1. Peninggalan masa lalu yg bersifat material, misalnya benda-benda kebudayaan.
2. Peninggalan masa lalu yang bersifat non material, misalnya pandangan atau falsafah hidup, cita-cita, etos, nilai, norma, dll.
Kedua aspek ini  tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan kata lain, apa yang dihasilkanmerupakan wujud dari apa yang dipikirkan. Istilah yang sering di gunakan untuk menjelaskan pewarisan kebudayaan dari satu generasi ke generasi disebut sosialisasi.
Perkembangan teknologi cetak, komputer, dan komunikasi dewasa ini memungkinkan untuk mengarsip peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk bisa diolah kembali oleh generasi  yang akan datang. Dengan demikian, yang diwariskan tidak hanya benda-benda material, tetapi juga benda-benda non material. Namun perkembangan ini tidak terjadi pada masyarakat sebelum mengenal tulisan. Kebudayaan mereka hanya diwariskan secara lisan dan melalui benda-benda kebudayaan. Ada beberapa cara untuk mewariskan masa lalu pada masyarakat ini, di antaranya:

A.    MELALUI KELUARGA
Keluarga merupakan dunia sosial yang pertama sekaligus yang paling berkesinambungan bagi seseorang. Di sinilah hubungan sosial intim yang langgeng pertama kali di bangun. Kemampuan berkomunikasi, terutama melalui pembelajaran bahasa, terjadi pertama kali melalui keluarga. Dalam keluarga pula, seseorang diperkenalkan dengan unsur-unsur utama kebudayaannya.
Pewarisan oleh keluarga dilakukan secara bertahap, mulai dari yang sederhana dan mudah dipahami menuju ke sesuatu yang kompleks atau rumit. Perhatian keluarga adalah kebudayaan non material, seperti pengetahuan dan kepercayaan, nilai, norma,
bangsa, dan cerita dongeng. Kebudayaan non material yang dimaksud adalah kebudayaan non material sebagaimana dipahami dan dihayati dalam suku atau kelompok masyarakatnya. Nilai mengacu dalam gagasan abstrak mengenai apa yang masyarakat anggap baik, benar, dan diinginkan. Norma adlah perwujudan konkret dari nilai-nilai, yaitu berupa aturan-aturan social dan acuan-acuanyang memberi pedomanbagi perilaku. Norma mencakup kebiasaan, adat istiadat, dan hukum. Keluarga mewariskan semuanya melalui sosialisasi.
Ada 2 cara sosialisasi dalam keluarga pada masyarakat sebelum mengenal tulisan.
Adat istiadat Setiap keluarga memiliki adat istiadat atau kebiasaan. Tradisi dan adat kebiasaan tersebut diwariskan kepada seorang anak melalui sosialisasi. Misalnya contoh sosialisasi secara langsung, dengan mengajarkan secara lisan tentang tradisi, adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dalam sebuah keluarga. Secara tidak langsung, misalnya dengan memberikan contoh perilaku.
Cerita dongeng Cerita dongeng juga salah satu cara untuk mewariskhan masa lalu. Biasanya generasi tua akan menceritakan dongeng-dongeng kepada generasi yg lebih muda, yang disisipkan pesan-pesan mengenai sesuatu yang dipandang baik untuk dilakukan maupun mengenai sesuatu dipandang tidak baikdan tidak boleh dilakukan.

B.     MELALUI MASYARAKAT
Masyarakat adalah sekelompok orang yang memliki kesamaan budaya (yang di wariskan dari generasi ke generasi), wilayah, identisas, dan berinteraksi dalam suatu hubungan sosial yang terstuktur. Masing-masing anggota dalam masyarakat saling membutuhkan, saling mengisi dan saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain.
Baik secara langsung maupun tidak langsung, masyarakat memilki caranya Sendiri-sendiri untuk mewariskan masa lalu.
Adat istiadat Masing-masing masyarakat memiliki adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Berhadapan dengan adat istiadat itu, setiap anggota masyarakat harus patuh. Penyimpangan akan membuat seseorang disisihkan dari lingkungan masyarakat.
Misalnya, pewarisan sifat gotong royong dalam kehidupan masyarakat. Baik langsung maupun tidak langsung, akan menjadi pelajaran yang dapat memberikan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat bersangkutan dari masa ke masa atau generasi ke generasi.
Adat istiadat dapat menjadi sarana untuk mewariskan masa lalu kepada generasi penerus. Namun, masa lalu yang diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya terkadang tidak persis sama apa yang terjadi di masa lalu itu, tetapi mengalami berbagai perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki akal untuk mengolah apa yang diwariskan oleh generasi terdahulu dan apa yang dibutuhkan oleh generasi bersangkutan. Oleh karna itu, masa lalu tidak sepenuhnya diambil oleh generasi berikutnya, tetapi hanya menjadi dasar yang terus dikembangkan dan diperbarui.
Pertunjukan Hiburan Seorang sarjana berkebangsaan Belanda, Dr.  J. L. Brandes, menemukan 10 pokok kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindhu-Budha. Salah satu di antaranya adalah pertunjukan wayang.
Pertunjukan wayang dapat dilakukan dengan tujuan dengan mendatangkan roh nenek moyang. Dengan demikian, pertunjukan wayang selain bermakna hiburan juga bermakna religius. Dalam pertunjukan wayang selalu disisipkan petuah-petuah atu petunjuk-petunjuk tentang suatu kehidupan yang sedang dilalui oleh masyarakat. Dalam pertunjukan juga dinyatakan tentang baik buruk kehidupan yang dilalui oleh masyarakat, bahkan pada cerita wayang dibahas sebab-akibat dari perilaku manusia secara keseluruhan.
Pertunjukan wayang sering mengambil lakon cerita tentang kehidupan seorang manusia dalam masyarakan, atau membandingkan kehidupan antar masyarakat. Bahkan pemain wayang, disebut dalang, biasanya mengambil tema cerita tentang asal usul daerah yang ditempati oleh suatu masyarakat. Kegigihan generasi terdahulu membangun tempat tinggalnya sering dibesar-besarkan atau diAgungkan agar generasi berikut tetap memberi penghormatan atau penghargaan karena generasi terdahulu telah menyediakan tempat untuk generasi berikut.
Sementara itu, wayang sebagai pertunjukan hiburan sangat besar manfaatnya dalam kehidupan manusia.
Kepercayaan Masyarakat Penelitian sorang sarjana berkebangsaan Perancis, G. Coedes, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindhu-Budha telah memiliki 10 unsur pokok peradaban, Salah satunya kepercayaan. Kepercayaan itu berbentuk animisme, dinamisme, dan monoisme, serta serta pemujaan terhadap roh nenek moyang atau roh leluhur, karena melalui pemujaan itu masyarakat akan mengenang dan mengingat apa yang telah pernah dilakuklan oleh para leluhurnya di masa lalu, yang kemudian ia warisi.
Dalam perjalanan sejarah muncul pertanyaan tentang mengapa masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan menganut animism,dinamisme,dan monoisme?munculnya kepercayaan semacam itu merupakan suatu proses yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan manusia.proses itu berkembang dalam kehidupan masyarakat yang didasarkan pada pengalaman masyarakat yang bersangkutan dan ketergantungan mereka pada alam.
Contohnya, tugu batu (menhir) yang didirikan oleh masyarakat sebagai tanda penghormatan kepada roh leluhur atau roh nenek moyang. Tugu batu itu dikeramatkan oleh masyarakat, bahkan masyarakat menganggap bahwa tugu batu itu memiliki roh atau jiwa atau kekuatan gaib. Oleh karena itu, secara turun-menurun atau dari generasi ke generasi mereka tetap melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang atau roh leluhur melalui tugu batu tersebut. Selain itu terdapat juga benda-benda yang memiliki kekuatan gaib dalam bentuk senjata atau benda-benda lain.
Dengan demikian, pertanyaan dari sarjana Belanda Dr. Brandes hampir sama dengan catatan sarjana Perancis Coedes tentang 10 unsur pokok dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebelum pengaruh Hindhu-Budha. Jadi, berdasarkan sisa-sisa peninggalan yang ditemukan maka dapat diungkapkan bahwa kehidupan masyarakat nenek moyang Indonesia pada zaman sebelum masuknya pengaruh Hindhu-Budha telah memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi. Masyarakatnya telah teratur dalam kehidupan kelompok, telah mengenal kepandaian teknik perundagian seperti mengecor dan mencetak logam (perunggu), memahat dsb. Selain itu mereka termasuk bangsa maritim yang ulung.
Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat bangsa Indonesia pada masa itu adalah:
1.      Masyarakat agraris-religius dengan corak pekerjaan bercocok tanam padi.
2.      Memiliki tingkat peradaban yang tinggi (teknologi perundagian) dan pelayaran.
3.      Hidup dalam kelompok berdasarkan asas kehidupan gotong royong, musyawarah dan mufakat.
4.      Merupakan masyarakat komunal dengan asas kesejahteraan bersama.

2.      Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Sebelum Mengenal Tulisan
Ada beberapa unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan, antara  lain:

A.    Sistem  Kepercayaan
Kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini terus berkembang pada masa bercocok tanam hingga masa perundagian. Pada masa bercocok tanam, pemujaan roh nenek moyang diungkapkan dengan upacara penguburan dan tradisi megalitikum, maka orang yang masih hidup memuja roh tokoh itu untuk tetap dapat melindungi mereka. Sedangkan pada masa perundagian kepercayaan terhadap roh nenek moyang (animisme) makin menguat. Hal ini tampak dari makin kompleksnya bentuk upacara-upacara penghormatan, persajian, dan penguburan. Dinamisme, yaitu kepercayaan yang menganggap bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib, dan totemisme, yaitu kepercayaan terhadap hewan tertentu yang dikeramatkan.
Manusia yang terdiri atas jasmani dan rohani memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, ini dibuktikan dengan penemuan lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Manusia di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya dewa alam yang menciptakan banjir, gunung meletus, gempa bumi, dsb.

B.      Sistem  Kemasyarakatan
Ketika manusia hidup bercocok tanam dan jumlahnya bertambah besar, sistem kemasyarakatan mulai tumbuh. Gotong-royong dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam menjalani kegiatan hidup, contohnya seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dll. Sistem kegotong-royongan, kekeluargaan, kerjasama, dan pembagian kerja makin mantap dalam organisasi mesipun sangat sederhana. Adanya upacara menunjukan masyarakat mulai mengenal status sosial, kekerabatan, dan hubungan perkawinan. Musyawarah merupakan cara pengambilan keputusan yang tepat.

C.     Pertanian
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman neolitikum, yakni sejak manusia menetap secara permanen (sedenter). Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang menghasilkan (food producing). Sistem persawahan diawali dari system ladang sederhana yang belum banyak menggunakan teknologi, kemudian meningkat dengan adanya teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan.
Kehidupan gotong-royong mulai teraktualisasi dalam system persawahan ini. Dengan sistem bersawah, sekalipun sederhana, mereka sudah memikirkan pengelolaa sawah yang intensif  melalui program Pancausaha Tani  (pemilihan bibit unggul, pengolahan tanah, irigasi, pemupukan, dan  emberantasan hama).

D.    Kemampuan Berlayar
Kemampuan berlayar sudah  dialami cukup lama oleh bangsa Indonesia, kenyataan ini dilatar belakangi oleh cara kedatangan nenek  moyang bangsa Indonesia dari dataran Asia. Dan kemampuan  itu terus berkembang di tanah yang baru, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau. Kemampuan berlayar ni selanjutnya menjadi dasar dari  kemampuan berdagang. Itulah sebabnya, sejak awal masehi, bangsa Indonesia sudah mulai berkiprah dalam jalur perdagangan internasional.
Nenek moyang bangsa Indonesia datang dari Yunani sebelum Masehi. Mereka sudah pandai mengarungi laut dan harus menggunakan perahu untuk sampai di Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara, mengingat kondisi geografi di  Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan menggunakan perahu untuk mencapai  kepulauan  lainnya. Salah satu cirri perahu yang dipergunakan nenek moyang kita adalah perahu cadik, yaitu perahu yang menggunakan alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri perahu. Pembuatan  perahu biasanya dilakukan secara gotong royong oleh kaum laki-lak. Setelah masa perundagian, aktivitas pelayaran juga semakin meningkat. Perahu bercadik yang merupakan alat angkut tertua tetap dikembangkan sebagai alat transportasi serta perdagangan.
Bukti adanya kemampuan dan kemajuan berlayar tersebut terpahat pada relief Candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8. Relief tersebut melukiskan tiga jenis perahu, yaitu:
1)  perahu besar yang bercadik,
2)  perahu besar yang tidak bercadik, dan
3)  perahu lesung

E.     Sistem Bahasa
 Bahasa yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia itu termasuk dalam satu rumpun bahasa, yaitu rumpun bahasa Melayu Austronesia atau bahasa Melayu kepulauan Selatan. Menurut H.Kern, bahasa Austronesia yang sampai ke Indonesia ini berasal dari daerah Campa, Vietnam, Kamboja, dan sekitarnya. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat sebagai alat komunikasi antara warga yang satu dengan warga yang lainnya.

F.      Ilmu Pengetahuan
Sebelum pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Juga mengenai ilmu astronomi, sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian.
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali musim, ilmu astronomi juga sudah dimanfaatkan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran, yaitu Bintang Biduk Selatan  dan Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menunjukkan arah utara. Kemampuan astronomi dan angin musim ini telah mengantarkan mereka berlayar ke barat sampai di Pulau Madagaskar, ke timur sampai di Pulau Paskah, dan ke selatan sampai di Selandia Baru serta ke arah utara sampai di Kepulauan Jepang. Pengetahuan astronomi juga digunakan dalam pertanian dengan memanfaatkan Bintang Waluku sebagai pertanda awal musim hujan.

G.    Organisasi Sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat itu lebih dikenal dengan sebuta suku.
Nenek moyang kita hidup berkelompok. Mereka bersepakat untuk hidup secara bersama, hidup gotong royong, dan demokratis.  Mereka memilih seorang pemimpin yang dianggap dapat melindungi masyarakat dari berbagai gangguan termasuk gangguan roh sehingga seorang pemimpin dianggap memiliki kesaktian lebih. Cara pemilihar pemimpin yang demikian disebut primus inter pares, yaitu yang terutama diantara yang banyak. Jadi, seorang pemimpin adalah yang terbaik bagi mereka bersama.
H.    Teknologi
Sejak masa pra-sejarah, masyarakat Indonesia telah mengenal teknik  pengecoran  logam, dan masyarakat juga telah mengenal teknik pembuatan perahu bercadik dan perahu  bercadik  itu dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan sarana dalam perdagangan
I.       Kesenian
Masyarakat  pra-sejarah telah mengenal kesenian sebagai hiburan untuk mengisi waktu senggang. Waktu senggang itulah yang mereka pergunakan untuk mewujudkan dan menyalurkan jiwa seni mereka seperti seni membuat batik, membuat gamelan, seni wayang dll. Akan tetapi seni wayang biasanya dipertunjukan setelah panen dengan lakon cerita tentang kehidupan  alam sekitar mereka.
1.      Kesenian  Wayang
Kesenian wayang semula berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Semula wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang pada malam hari. Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan sehingga terlihat bayangan boneka seolah-olah hidup. Jika dalang kemasukan roh nenek moyang,sang dalang akan menyuarakansuara nenek moyang yang berisi nasihat-nasihat  kepada anak cucu mereka. Setelah kedatangan hinduisme ke nusantara maka kisah nenek moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata. Bonekanya kemudian diganti dengan bentuk tokoh dalam cerita Mahabharata. Fungsinya pun beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya melihat dari depan tirai.
2.       Seni  Gamelan
Seni gamelan ada  kaitannya dengan seni wayang. Seni gamelan ini dipakai untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu musim bercocok tanam sudah  usai masyarakat kuno itu membuat alat musik gamelan, mengembangkan seni membatik, dan mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk untuk dapat dilihat oleh masyarakat di sekitarnya.
3.      Seni Membatik
Seni membatik merupakan kerajinan membuat gambar pada kain. Cara menggambarnya mempergunakan alat canting yang diisi bahan cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang telah dipanaskan,  lalu dilukiskan pada kain sesuai motifnya.

J.       Sistem Ekonomi
Masyarakat pada setiap daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, untuk itu mereka menjalin hubungan perdagangan dengan daerah-daerah lainnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah system barter, yaitu pertukaran barang dengan barang.
Kebutuhan hidup manusia selalu menuntut untuk dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat kuno saling bertukar barang (barter) dari satu wilayah ke wilayah lain. 

Jejak Sejarah Indonesia

1.      Folklore
Folklore sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklorenya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore.Folklore ialah kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat. Dapat juga diartikan Folklore adalah adat-istiadat tradisonal dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, dan tidak dibukukan merupakan kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun menurun. 
Kata folklor merupakan pengindonesiaan dari bahasa Inggris. Kata tersebut merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar yaitu folk dan lore. Menurut Alan Dundes kata folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain, berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama. Namun, yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang telah mereka akui sebagai milik bersama. Selain itu, yang paling penting adalah bahwa mereka memiliki kesadaran akan identitas kelompok mereka sendiri.Kata lore merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Dengan demikian, pengertian folklore adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Ciri-ciri Folklore
Agar dapat membedakan antara folklor dengan kebudayaan lainnya, harus diketahui ciri-ciri utama folklor. Folklor memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
b. Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
c. Berkembang dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan penyebarannya secara lisan sehingga folklor mudah mengalami perubahan. Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap bertahan.
d. Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak diketahui lagi orangnya.
e. Biasanya mempunyai bentuk berpola. Kata-kata pembukanya misalnya. Menurut sahibil hikayat (menurut yang empunya cerita) atau dalam bahasa Jawa misalnya dimulai dengan kalimat anuju sawijing dina (pada suatu hari).
f. Mempunyai manfaat dalam kehidupan kolektif. Cerita rakyat misalnya berguna sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan cerminan keinginan terpendam.
g. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
h. Menjadi milik bersama (colective) dari masyarakat tertentu.
i. Pada umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang jujur.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, Balai Pustaka, tahun 1990), folklore merupakan suatu adat istiadat  tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan. Folklore dapat dibedakan menjadi dua, antara lain.
A.    Folklore Lisan
Adalah folklore yang diciptakan, disebarluaskan, dan diwariskan dalam bentuk lisan, antara lain:
1. Bahasa Rakyat, adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Teka-teki, teka-teki dikenal sebagai sarana hiburan dan latihan mengasah otak atau pikiran.
3. Puisi, adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, dan penyusunan lirik dan bait.
4. Cerita Rakyat, adalah suatu ceritera yang disampaikan secara turun-temurun atau dari mulut-kemulut didalam masyarakat.
5. Nyanyian Rakyat, merupakan sebuah tradisi lisan dari satu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang tradisional.

B.     Folklore Bukan Lisan
Adalah folklore yang diciptakan, disebarluaskan dan diwariskan tidak dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk benda-bena hasil kebudayaan manusia, antara lain:
a. Arsitektur Rakyat, merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
b. Kerajinan Tangan Rakyat, pada saat itu kerajinan tangan rakyat hanya dilakukan apa bila ada waktu senggang atau untuk kebutuhan rumah tangga, dan sebagian besar bahannya diambil dari bamboo atau kayu.
c. Pakaian dan Perhiasan Tradisional, setiap daerah di Indonesia memiliki pakaian atau perhiasan tradisional yang khas.
d. Obat-obatan Tradisional, disetiap masyarakat, selalu ada satu atau beberapa orang yang ahli dalam mendeteksi penyakit maupun dalam menentukan ramuan yang cocok untuk mengobati penyakit tersebut, dan bahan ramuannya pun hamper seluruhnya berasal dari alam.

Fungsi Folklore
Adapun fungsi folklor, yaitu sebagai berikut:
a. Sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
b. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c. Sebagai alat pendidik anak.
d. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Salah satu cara kita untuk melacak bagaimana kesadaran sejarah yang mereka miliki ialah dengan melihat bentuk folklor. Bentuk
folklor yang berkaitan dengan kesadaran sejarah adalah cerita prosa rakyat. Termasuk prosa rakyat antara lain mite atau mitologi dan legenda.
2.      Mitologi
Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, Mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda, cerita rakyat, dongeng, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek.
Mitologi terkait dekat dengan legenda maupun cerita rakyat. Tidak seperti mitologi, pada cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dinggap sebagai suatu yang suci yang dipercaya kebenarannya. Sedangkan legenda, meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelakunya pada legenda adalah manusia bukan dewa dan monster seperti pada mitologi.
Mitologi juga berarti cerita tentang asal mulanya alam semesta, manusia, dan bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti sangat dalam.
3.     Legenda
Legenda (bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor Menurut Pudentia legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Dalam KBBI 2005, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Menurut Emeis legenda adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Menurut William R. Bascom  legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas,  legenda adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.
Adalah sebuah cerita rakyat pada masa lampau yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah atau dengan dongeng-dongeng seperti cerita tentang terbentuknya suatu negeri, danau, gunung, dan sebagainya. Contoh : Leganda Wali Song, Ande-Ande Lumut, dll.
4. Upacara
Adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait pada aturan-aturan tertentu berdasarkan adat istiadat, agama, atau pun kepercayaan. Adapun jenis-jenis upacara, antara lain:
a. Upacara Penguburan, merupakan upacara yang pertama kali dikenal dalam kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha. Upacara ini muncul karena kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal akan pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lingkungan dimana ia pernah tinggal.
b. Upacara Perkawinan, dalam arti yang lebih luas, perkawinan tidak hanya melibatkan dua orang yang saling mencintai tetapi juga melibatkan keluarga dari kedua mempelai.
c. Upacara Pengukuhan Kepala Suku, untuk menjadi seorang kepala suku, seseorang harus terbukti memiliki kekuatan, keahlian, pengalaman, atau pengaruh yang lebih dibandingkan dengan orang lain karena beratnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. Biasanya kepala suku berfungsi sebagai pelindung kelompok sukunya dari berbagai ancaman.
d. Upacara Sebelum Perang, pada saat itu peperangan antar kelompok sering sekali terjadi, dan biasanya peperangan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
-  Masalah perbatasan
-  Ingin menguasai daerah dari kelompok suku lain
-  Masalah yang timbul dari hubungan yang kurang harmonis antaranggota dari kedua kelompok suku
-  Membuktikan ketangguhan dan kekuatan dari masing-masing kelompok sukunya
-  Mempertahankan harga diri suku.

5.Lagu Daerah
Lagu merupakan syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik, sedangkan lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah. Nyanyian rakyat menurut Jan Garlod Brunvand dianggap sebagai salah satu bentuk (genre) Folklore yang terdiri dari teks dan lagu yang beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu dan mempunyai banyak varian.
Fungsi nyanyian rakyat :
1. Membebaskan orang dari kejenuhan dan untuk menghibur diri meskipun hanya bersifat sementara sehingga nyanyian menjadi pelipur lara.
2. Mambangkitkan semangat
3. Memelihara sejarah tempat san klan (Keluarga Besar)
4. Mengunkapkan suatu bentuk protes sosial terhadap yang terjadi.

 Daftar  Beberapa lagu daerah
No
Nama Lagu
Asal Daerah
1
Sajojo
2
Sansaro
3
Sapu Nyere Pegat Simpai
4
Saputangan Bapuncu Ampat
5
Sarinande
6
Saule
7
Say Selamat Masinegar
8
Sayang Kene
9
Selendang Mayang
10
Sengko-sengko
11
Seringgit Dua Kupang
12
Si Patokaan
13
Bajing Luncat
Jawa Barat
14
Sinanggar Tulo
15
Sing Sing So
16
Sinom
17
Sirih Kuning
18
Sitara Tillo
19
Soleram
20
Sory Ya Katulla
21
Sudah Berlayar


Leave a Reply